Sunday, 10 February 2013

Goa Tetes, Sebuah Keindahan Yang Tersembunyi


Cuaca cerah yang menggantung di atas bumi Lumajang serasa akan melancarkan rencana petualangan kami. Tanggal 5 April 2009  Saya, Wahyu, Fauzan, Emir, Ivan, Teguh dan Dimas (gombes) berkumpul di depan sekolah kami SMA 3 Lumajang. Bukan untuk membolos tapi karena hari itu memang hari libur karena memang hari itu adalah hari  minggu hehe dan keesokan harinya anak kelas XII melakukan Ujian Akhir Nasional (UAN) jadi kami bisa santai sejenak. Hari itu kami merencanakan untuk pergi ke goa tetes. 
Pemandangan goa tetes

Foto dulu sebelum Turun


Di Depan Mulut Goa

Goa tetes terletak di Dusun Krajan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang. Dari pusat kota Lumajang goa ini masih sangat jauh kira-kira masih 60 Km lagi. Lokasi goa ini memang terletak di antara Lumajang dan Malang. Rencananya kami akan pergi dengan semua teman-teman dari PA-13 tapi karena teman-teman yang perempuan tidak bisa maka kami berangkat sendiri.Dengan 4 sepeda motor kami melakukan perjalanan panjang menuju lokasi. Melewati Geladak perak dan piket nol yang terkenal dengan pemandangan yang indah dan kisah angker yang seakan terbawa bersama kabut tipis yang kadang menyelimutinya. Kurang lebih 2 jam perjalanan menggunakan sepeda motor.

Gombes Gila

  
Setelah sampai parkiran kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Untuk sampai ke mulut goa perjalanannya cukup menantang dan berat karena jalurnya cukup terjal. Namun semua terbayar lunas ketika kita melihat pemandangan yang ada di sana. Sepanjang perjalanan kita akan di suguhi pemandangan yang sangat indah. Pemandangan yang sangat indah seakan bisa sedikit menghapus kepenatan di sekolah dengan berbagai macam tugas dan  rutinitas yang membosankan walaupun kadang rutinitas yang membosankan pada saat SMA adalah hal yang sangat kita rindukan pada saat sekarang. Meskipun pemandangannya sangat indah tapi kita juga wajib waspada karena jalan menuju mulut goa melewati jembatan yang licin dan agak rusak karena tidak terawat.
Camera digital kami pun terus mengabadikan pemandangan indah ini (walaupun sebenarnya pemandangan yang asli masih lebih indah di bandingkan  dengan pemandangan hasil jepretan camera) tapi hal itu sudah cukup untuk mengabadikan momen indah ini (lebay.com). Lanjut lagi dengan berbagai kebodohan-kebodohan yang kami lakukan mulai dari foto ala personil dewi-dewi dan Teguh yang kesulitan mencari kamar mandi karena “kebelet BAB” hahaha. Akhirnya dia mencari tempat strategis jauh dari pemandangan indah ini. 
Di Dalam Goa

 

Matahari semakin naik dan itu sudah memberikan tanda buat kita untuk segera pulang. Kira-kira pukul 12.00 WIB kami memutuskan untuk melanjutakan perjalanan pulang. Sebelum langsung pulang kami mampir dulu ke rumah saudara teman kami (lumayan lah dapat bakso dan makanan gratis) haha. Next langsung menuju kota Lumajang tapi karena ivan memberikan tawaran yang menggiurkan yaitu mampir dulu ke rumah neneknya dan memetik buah salak segar langsung dari kebunnya. kami sempat pikir-pikir dulu dan setelah voting mufakat akhirnya kami pun setuju untuk karena kata ivan jaraknya juga tidak terlalu jauh hanya sekitar 10 menit perjalanan.
Di dalam Goa Lagi

Yang punya Blog
Katanya Cuma 10 menit perjalanan tapi kok jauh juga. Ternyata perjalanan menuju rumah nenek ivan sangat jauh dengan jalan yang berkelok-kelok melewati tebing-tebing dan menuju pelosok desa yang bahkan sinyal handphone pun tidak mampu menjangkaunnya. Oke fine saya masih bisa sedikit agak tenang. Kurang sedikit menuju rumah nenek ivan dan ban sepeda motor ivan pun mengalami kebocoran. Dengan sedikit usaha akhirnya kami sampai juga di rumah nenek ivan dan langsung mencari tambal ban. Setelah menyerahkan urusan ban kepada tambal ban kami pun menunggu ivan yang bersama saudaranya menuju kebun salak untuk memetik buah salah yang dia janjikan tersebut. Setelah sekitar 45 menit menunggu dan ivan belum  juga datang kami yang tersisa di situ membuat video yang berisi isi hati kami dengan kebodohan dan “kebohongan” public yang dia lakukan dengan mengatakan bahwa rumah neneknya sudah dekat padahal masih sangat jauh.



Akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang Ivan dan sekarung salaknya pun melegakan hati kami. Tapi sepertinya ada yang aneh dan ternyata sepeda Ivan yang di tambal ban nya belum di kerjakan sama sekali arrrghhh. Darah kami seakan mendidih sudah hampir 1 jam menunggu dan sepedanya belum di kerjakan sama sekali. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.12 WIB dan kami belum melanjutkan perjalanan pulang kami dan celakanya kami masih berada di pelosok desa yang bahkan sinyal handphone pun enggan untuk menghampirinya dan konsekuensi logisnya adalah kami tidak bisa mengabari orang tua kami tentang keberadaan kami.
Berusaha menyalakan Perapian

Kesabaran kami pun di uji lagi ketika ivan dengan wajah innocent nya  mengajak kami tidak usah pulang dan menginap di rumah neneknya saja. Saya dengan lantang menolak keras ajakan itu seperti rakyat yang menolak kenaikan harga BBM heheh. Dia mungkin tidak tahu kalau Ibu saya akan sangat marah besar jika tidak pulang rumah tanpa mengirim kabar dan dengan No handphone yang tidak bisa di hubungi. 
Setelah sabar menunggu dan menunggu akhirnya sepeda Ivan yang di tambal selesai juga. Oke lets go home melewati jalan yang berbelok-belok dan tebing-tebing lagi sebelum sampai di jalan raya besar. Tapi rupanya rintangan belum juga selesai sepeda ivan sekali lagi menunjukkan tranda-tanda yang tidak normal dan ternyata bannya bocor lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB akhirnya kami menemukan tukang tambal ban lagi. Rupanya tukang tambal ban yang ini lebih cekatan dari pada yang tadi sekitar 15 menit dan sepeda sudah siap di gunakan lagi. 
Gaya dulu sebelum masak

   
Sampai di pertigaan di jalan besar kami melakukan debat dan musyawarah apakah harus pulang ataukah harus menginap di rumah saudara teman saya yang tadi. Saya termasuk kubu yang dengan tegas menolak untuk menginap dan harus pulang (maklum saya tadi hanya izin untuk main ke kota Lumajang saja dan tidak sampai ke pelosok desa seperti ini hehe). Sedangkan yang lainnya memilih untuk tidak pulang dan menginap di rumah saudara teman kami yang tadi dengan alasan hari sudah hampir maghrib dan kita belum melewati piket nol dan jembatan perak yang indah tapi katanya angker setengah mati tersebut. Saya mendebat kalau jumlah kita kan juga banyak masak 7 orang laki-laki dewasa juga masih takut (walau dalam hati juga saya juga tidak terlalu berani dan pikir-pikir juga) heheh tapi secara logika saya masih bisa lari dari kejaran setan (tapi saya berharap agar tidak bertemu dengan setan tentunya) tapi saya tidak akan bisa lari jika ibu saya yang memarahi saya heheh.
Bung Fauzan


Mendidih
 
Setelah debat yang seru lebih seru daripada debat antara anggota DPR di senayan akhirnya golongan yang ingin pulang menang hahah perjuangan saya tidak sia-sia. Lanjut kawan, malam pun menjelang dan kami terus menggeber sepeda motor kami. Melewati piket nol dan gladak perak hati saya berdebar hehe semoga mitos yang ada tidak terbukti kami mengendarai sepeda agak lebih pelan di sini karena jalannya yang berbelok-belok dengan kanan kiri jurang dan penerangan yang tidak memadai selain itu jalannya juga sempit. Tiba-tiba saya merasa ada tangan yang memegang kaki saya dan perasaan saya sudah tidak karuan. Setelah saya lihat ternyata hanya tangan wahyu yang berpegangan di kaki saya. Setelah melewati piket nol yang legendaris kami pun mulai lega. 
Bagi-bagi makan

Ternyata masalah belum juga selesai Memasuki kecamatan Candipuro ternyata ban sepeda Ivan bocor lagi. Tiga kali ban bocor di tempat yang sama jelas sekali bahwa ban sepedanya harus segera di ganti. Akhirnya saya pun menyerah karena jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB dan kami masih ada di  Kecamatan Candipuro walaupun di paksakan untuk pulang tapi hal itu juga tidak akan efektif. Untung saja di sekitar situ ada rumah saudara wahyu dan akhirnya kita menginap di situ. Setelah menunggu ban Ivan selesai diganti saya menelpon rumah dan mengatakan hal sebenarnya hehe. Setelah mendengarkan sedikit “omelan” akhirnya kami pun menuju rumah saudara wahyu. 
Makan Dulu

 Liburan yang kami rencanakan Cuma setengah hari itu akhirnya dengan sendirinya baerjalan lebih lama. Melewati malam di tempat yang asing akhirnya kami memutuskan untuk mencari rental Playstation untuk melepas lelah. Rupanya setelah perjalanan yang melelahkan dan debat yang menguras tenaga akal sehat teman-teman saya mulai rontok hehe. Lagi-lagi Ivan dan Teguh membuat kami sedikit bingung. Katanya dia melihat rental Ps di pinggir jalan yang agak jauh dari rumah tempat kami menginap. 
Dengan rela dan senang hati kami melangkahkan kaki untuk menuju tempat yang kami inginkan tersebut. Setelah capek berjalan-jalan dan berkeliling untuk mencari tempat tersebut akhirnya kami menyerah dan memutuskan untuk bertanya kepada warga sekitar. Ternyata jawabannya cukup mengejutkan ternyata rental Ps yang kami cari-cari hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah saudaranya wahyu ckck benar-benar pasangan sahabat koplak.
Pagi hari

Lanjut, setelah puas bermain guitar hero dan saya kalah dengan telak karena saya jarang bermain playstation kami memutuskan untuk mencari makanan. Tidak banyak pilihan yang tersedia dan akhirnya kami memilih untuk membeli beberapa bungkus mie instant dan memasaknya sendiri. Satu lagi yang unik kami memasak menggunakan “tumang” atau tungku yang terbuat dari tanah liat. Hal itu rupanya cukup merepotkan kami karena kami sudah terbiasa untuk memasak dengan kompor gas =). Akhirnya makan malam pun di mulai dengan sangat nikmat karena memang kami sangat mensyukuri dengan apa yang kami peroleh. 
Gunung Semeru Tampak dari Kejauhan

Lahan hijau

Pagi hari menjelang dan kami pun bergegas untuk menikmati suasana alami khas pedesaan dengan pemandangan utama gunung tertinggi di jawa yaitu gunung semeru. Maklum candipuro adalah salah satu kawasan yang berada dekat dengan gunung semeru. Selanjutnya kita berjalan-jalan menyusuri sawah dan melihat sungai. Selesai berkeliling desa kami menuju rumah kembali dan musyawarah untuk membagi rata hasil oleh-oleh salak dan kerupuk yang di bawah dari kunjungan kemarin. Pembagian berlangsung agak tidak merata karena ada beberapa orang yang tidak mengikuti secara langsung acara pembagian salak tersebut. Untungnya saya melihat secara langsung pembagian tersebut heheh.
Gombes lagi

Setelah semua siap akhirnya perjalanan di lanjutkan dengan pulang ke Lumajang dan lanjut menuju rumah masing-masing. Selamat tinggal goa tetes selamt tinggal candipuro. Next time I will  come back ^_^.
 





Monday, 4 February 2013

Jomblo vs Rumit




Sebelumnya Sorry yak untuk sekarang saya gak tulis tentang perjalanan jalan-jalan saya dulu tapi mau membahas yang lagi hangat di perbincangkan di kelas saya yaitu Kelas GG Manajemen Universitas Negeri Malang angkatan 2010 *Lengkap banget ya hehehe*  Oke Langsung aja
Menurut arti kata Single adalah suatu keadaan di mana kita sendirian dan tanpa pasangan. Untuk kalangan anak muda sih lebih popular dengan kata jomblo mungkin ya. Untuk beberapa kalangan menjadi seorang jomblo adalah suatu pilihan mungkin dengan berbagai alasan mulai dari ingin focus kepada kuliah atau belajarnya, ingin bebas berpetualang tanpa di recoki oleh pasangannya, atau masih belum bisa mencari pengganti sepadan buat sang mantan pacar, sampai alasan agama dan itu sih terserah individunya masing-masing. Dan anehnya lagi biasanya kaum jomblo ini menjadi bahan ejekan teman-temannya dengan memvonis bahwa mereka adalah kaum yang tidak bahagia, kaum yang paling memperihatinkan apalagi saat malam minggu tiba wahh pasti rame banget tuh yang mem “bully-bully” mereka gak peduli lewat media sosial atau Cuma lewat ejekan-ejekan antar teman. Padahal si individunya sih asik-asik aja gak merasa mereka adalah orang yang paling memperihatinkan atau orang yang paling sedih pada saat malam minggu. Mereka juga enjoy-enjoy aja tuh menikmati kesendirian mereka mulai dengan berkumpul dengan teman-teman atau bareng keluarga, jalan-jalan ke kota lain sambil cari pengalaman baru atau teman baru bareng teman yang punya visi yang sama (hal yang mungkin sulit di lakukan mereka yang udah punya pasangan karena lazim nya mereka menghabiskan malam minggu atau hari liburan mereka bareng pacar) atau mungkin sholat dan membaca alquran di rumahnya =). Intinya sih menjadi jomblo gak se”menyedihkan” apa yang di katakana mereka yang menghujatnya. Oh ya satu lagi menjadi jombli mereka bisa berkenalan dengan lawan jenis lebih banyak tanpa takut di marahi pasangannya hhehe.
Nah hal di atas yang mungkin tidak bisa di lakukan oleh si Complicated atau si “Hubungan Rumit”. Menurut arti kata Complicated it has so many parts or aspect that’s it is difficult to understand or deal with. udah tahu kan artinya?? Yak si rumit ini orang yang sudah mempunyai pasangan atau pacar tapi… eitt masih ada tapi nya hubungan mereka biasanya dalam keadaan yang menggantung lebih sering “berkelahi" nya dari pada romantic nya :p. Ada beberapa alasan yang menyebabkan mereka biasanya “menggantung” Mungkin karena Hubungan Jarak Jauh (LDR), Mungkin salah satu pasangan memiliki sifat posesif atau cemburuan yang amat sangat Over dll. Banyak kasus yang melarang pasangan nya untuk tidak keluar bareng sama si A atau si B dengan alasan tertentu bahkan untuk keluar sama teman sekelas atau teman seperjuangan mereka aja kadang-kadang udah jadi masalah yang menjadi Kronis banget. Lalu kenapa mereka masih bertahan??? Entah lah banyak alasan juga buat ini tapi kebanyakan alasannya sih karena udah cinta banget sama si pasangan mereka, kalau putus belum ada penggantinya (kayak ganti spare part sepeda Motor aja deh kebanyakan mikir), atau yang lebih parah mereka enggan putus karena gak mau di sebut “jomblo” oleh teman-teman mereka walaupun harus menggadaikan kemerdekaan mereka sih *menurut saya lho*. Kenapa menggadaikan kemerdekaan ya karena kadang-kadang akun facebook pacar yang lebih sering buka daripada dia, akun twitter punya dia tapi si pacar yang lebih sering berkicau bahkan yang lebih konyol kadang no hape aja harus tukar sama si pacar sampek temennya males buat ngehubungi dia karena kalo di tlpn buat ngerjain tugas atau keperluan yang lain bukan si A yang ngangkat malah pacarnya gak enak banget kan. Sebagai penutup buat si rumit saya mau buat kesimpulan bahwa menjadi rumit itu gak enak.. mau tau kenapa karena kalo kita mau deketin cewek lain takut di anggep gak setia masih punya pacar kok udah PDKT ama cewek lain tapi kalau gak PDKT sama cewek lain hati jadi tersiksa hehe.
Ya hidup memang sebuah pilihan jadi terserah anda mau jadi si “Jomblo” atau mau si “Rumit”.

Monday, 28 January 2013

PALAGA (Pecinta Alam SMA Tiga Lumajang)




Palaga adalah organisasi Intra Sekolah SMA Tiga Lumajang. Menurut Mbak Lilik salah satu angkatan perintis yang ikut membidani lahirnya Palaga organisasi ini Di bentuk pada 14 Februari 1998-1999 tangggal itu merupakan awal perjuangan mendirikan Palaga namun karena beberapa hal akhirnya Dies Natalis Palaga di peringati pada tanggal 22 Februari. Palaga didrirkan oleh sekelompok siswa-siswi SMA 3 Lumajang yang peduli dengan kondisi lingkungan dan alam yang secara terus menerus di eksploitasi tanpa adanya timbal balik yang sepadan, Selain juga memiliki kesenangan dan juga hobi yang sama yaitu kegiatan outdoor. Anggota-anggota awal ini di sebut sebagai angkatan perintis yang antara lain terdiri dari Mbak lilik, Angga, Joko, Dimas, kurniawan dkk awal berdiri Organisasi ini di bina oleh bapak agus dan ketua umum di pegang oleh Kurniawan. 

Palaga sendiri seperti layaknya organisasi-organisasi lainnya pasti pernah mengalami sebuah pasang surut dalam perkembangannya. Mulai dari konflik antar anggota, pergantian Pembina, sampai ketidak cocokan dengan pihak sekolah yang terkesan membatasi kegiatan Palaga. Tapi hal itu harus kita syukuri “blessing in disguise” kata kerennya. Jika tidak ada masalah yang menimpa palaga mungkin kita sebagai anggota akan tetap saja tidur, kurang berbuat sesuatu dan biasa-biasa saja. Masalah itulah yang semakin membuat kita dewasa, kompak dan tetap bertahan sampai sekarang.

Bongkar pasang ketua umum dan susunan struktur organisasi menjadi ritual setiap tahun ibarat kayu bakar yang menjadi bahan bakar tungku para anggota yang sudah senior diganti dengan para junior. Hal ini bertujuan untuk memberikan anggota yang lebih junior pengalaman dalam mengelola organisasi karena cepat atau lambat para anggota senior tentu akan lulus dari SMA 3 Lumajang dan tentu saja secara otomatis mereka tidak bisa lagi menjadi pengurus dan akhirnya mereka menjadi anggota luar biasa (ALB). 

Untuk sistem perekrutan anggota sendiri Palaga melakukannya setiap tahun. Sebelum menjadi anggota baru para “calon anggota” palaga di didik dan di gembleng oleh para senior mereka. Para calon anggota baru  di beri ilmu-ilmu dasar dalam melakukan sebuah perjalanan di alam bebas mulai dari navigasi darat, survival  dll. Biasanya di lakukan di hutan jati krasak atau tempat lain menyesuaikan dengan kondisi yang memungkinkan. Setelah menjalani diklat lapangan para calon anggota baru belum resmi menjadi anggota palaga, mereka harus mengambil scraf palaga di puncak gunung Lemongan (1671 Mdpl). Dalam pengalaman pertama kali mereka mendaki gunung ini tentu mereka tidak berjalan sendiri mereka di damping oleh senior-senior mereka untuk memastikan keselamatan mereka.

Dalam kesehariannya sendiri Palaga menganut Etika yang di sepakati oleh semua Pecinta alam dan di sahkan di ujungpandang pada 24 Januari 1974 dalam Kode Etik Pecinta Alam yaitu :
Ø  Pecinta alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Ø  Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa Pecinta alam sebagai makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa.
Selain kode etik pecinta alam di atas di dalam palaga sangat di tekankan tentang prinsip dasar dalam kegiatan kepetualangan yaitu : Take Nothing but picture, Leave nothing but footprint, Kill Nothing but time. Palaga sendiri mempunyai slogan alam ku, alam mu alam kita semua slogan ini selalu di tanamkan kepada anggota baru untuk mempresentasikan bahwa bumi kita hanya satu dan kita semua wajib menjaga kelestariannya.
Fasilitas yang di miliki oleh Palaga sendiri sekarang terbilang lebih lengkap untuk ukuran kabupaten Lumajang. Sekarang mereka sudah memiliki wall panjat diding sendiri yang berada di lapangan tengah sebelum ini para anggota palaga yang ingin melatih kemampuan mereka harus pergi dulu ke Stadion dan menyewa wall yang berada di stadion semeru Lumajang bersyukurlah bagi para  anggota yang sempat menikmati fasilitas ini rawat dan jagalah wall yang telah di perjuangkan oleh senior-senior kalian terdahulu. Sekian dulu untuk tulisan kali ini semoga bermanfaat

Salam Lestari

Friday, 18 January 2013

Tahu Telur Cak Nur




kali ini saya tidak akan bercerita tentang perjalanan atau cerita petualangan dulu, tapi sekarang saya mau membahas tentang salah satu aspek penting dalam menjalani kehidupan terutama bagi anak kos yap saya akan membahas tentang makanan =). Malam itu sekitar pukul setengah Sembilan lebih yah hampir jam Sembilan malam lah tiba-tiba saja saya sangat “ngidam” tahu telur. Sebenarnya sih saya sudah mencoba hampir semua penjual tahu telur di sekitar kos-kosan saya mulai dari yang dari berbentuk rumah makan sampai gerobak biasa. Tapi mungkin saya rasa tahu telur cak nur lah yang menjadi juaranya (masalah selera sih bisa beda ya).
Cak nur sendiri mangkal di sekitar kos-kosan saya sih kalau menurut jadwal jam setengah Sembilan seharusnya sudah stand by di dekat patung singa. Tapi setelah saya sambangi kok belum nongol juga akhirnya saya mengulur waktu sambil mengambil laundry,an teman saya dulu dengan harapan sekembalinya mengambil cucian cak nur sudah datang dan sudah siap di sekitar patung singa. Tapi setelah saya mengambil cucian ternyata cak nur belum juga datang wah saya sempat berpikir kalau cak nur tidak datang tapi gimana nih sudah pengen banget tahu telur nya.

Oke lah kami kembali dulu ke kosan sambil menaruh cucian dan istirahat dulu dan ngobrol dulu sambil menunggu cak nur kalau-kalau saja sudah datang. Teman saya sih bilang kalau cak nur belum stand by di patung singa berarti dia masih jualan di Jl.MT.Haryono sekitar betek sana tapi itu kan lumayan jauh masak iya mau di samperin ke sana. Akhirnya dengan berat hati saya mau beli nasi goreng saja lah. Tapi sebelum itu saya mengajak Evan untuk lewat jalan yang gak biasanya dengan harapan bisa ketemu cak nur (masih berharap). Sekali lagi saya lihat ke arah patung singa tapi tetap saja nihil dia belum datang.
Pergi ke tempat jualan nasi goreng aja deh tapi ketika melewati sebuah gang dari kejauhan saya sempat melihat sebuah gerobak  tahu telur dan rasanya tidak asing bagi saya wahhh ternyata cak nur masih jualan di gang sebelah yang agak jauh dari kosan saya dengan cepat saya langsung menghampirinya =). Akhirnya ketemu juga nih setelah pesan dan menunggu tahu telur saya menyempatkan menginterogasi penjual tahu telur andalan anak kosan daerah ambarawa ini. Saya sempat tanya kenapa dia belum juga nongol di patung singa padahal ini kan sudah jam 9 ehh ternyata dia belum tahu kalau ini sudah jam 9 malam. 

Yang membedakan tahu telur cak nur dengan tahu telur yang lain mungkin bumbunya ya tapi selain itu kalau penjual yang lain selalu menggunakan tahu yang mentah lalu di campur dengan telur tapi tidak dengan tahu telur cak nur sebelum meracik antara tahu dan telurnya dia dia menggoreng terlebih dahulu tahu nya menjadikan cita rasa nya berbeda daripada penjual tahu telur yang lain.
Hari itu sempat hujan sedikit dan saya sempat bertanya gimana nih kalau hujan gak pulang aja dan  dengan enteng dia menjawab lha kalau pulang keluarga saya makan apa  wuiikk jleebb bener juga sih. Oh iya dia juga bercerita kalau hari minggu dia tidak jualan karena hari khusus bersama dengan keluarganya waahh benar-benar sosok orang yang memprioritaskan keluarganya ya harus nya menjadi panutan penjual tahu telur yang lain nih cak Nur =)

DILEMA QUARTER LIFE CRISIS

di usia mu yang menginjak dua puluh tahunan apalagi yang sudah dua puluh lima tahun  kamu pasti merasakan hal-hal yang serba dilematis, d...