Cuaca cerah yang menggantung di atas bumi Lumajang serasa akan
melancarkan rencana petualangan kami. Tanggal 5 April 2009 Saya, Wahyu, Fauzan, Emir, Ivan, Teguh dan Dimas
(gombes) berkumpul di depan sekolah kami SMA 3 Lumajang. Bukan untuk membolos
tapi karena hari itu memang hari libur karena memang hari itu adalah hari minggu hehe dan keesokan harinya anak kelas
XII melakukan Ujian Akhir Nasional (UAN) jadi kami bisa santai sejenak. Hari
itu kami merencanakan untuk pergi ke goa tetes.
Pemandangan goa tetes
Foto dulu sebelum Turun
Di Depan Mulut Goa
Goa tetes
terletak di Dusun Krajan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang. Dari
pusat kota
Lumajang goa ini masih sangat jauh kira-kira masih 60 Km lagi. Lokasi goa ini
memang terletak di antara Lumajang dan Malang.
Rencananya kami akan pergi dengan semua teman-teman dari PA-13 tapi karena
teman-teman yang perempuan tidak bisa maka kami berangkat sendiri.Dengan 4
sepeda motor kami melakukan perjalanan panjang menuju lokasi. Melewati Geladak
perak dan piket nol yang terkenal dengan pemandangan yang indah dan kisah angker
yang seakan terbawa bersama kabut tipis yang kadang menyelimutinya. Kurang
lebih 2 jam perjalanan menggunakan sepeda motor.
Gombes Gila
Setelah sampai parkiran kami melanjutkan perjalanan dengan jalan
kaki. Untuk sampai ke mulut goa perjalanannya cukup menantang dan berat karena
jalurnya cukup terjal. Namun semua terbayar lunas ketika kita melihat
pemandangan yang ada di sana.
Sepanjang perjalanan kita akan di suguhi pemandangan yang sangat indah. Pemandangan
yang sangat indah seakan bisa sedikit menghapus kepenatan di sekolah dengan
berbagai macam tugas dan rutinitas yang
membosankan walaupun kadang rutinitas yang membosankan pada saat SMA adalah
hal yang sangat kita rindukan pada saat sekarang. Meskipun pemandangannya
sangat indah tapi kita juga wajib waspada karena jalan menuju mulut goa
melewati jembatan yang licin dan agak rusak karena tidak terawat.
Camera digital kami pun terus mengabadikan pemandangan indah ini
(walaupun sebenarnya pemandangan yang asli masih lebih indah di bandingkan dengan pemandangan hasil jepretan camera)
tapi hal itu sudah cukup untuk mengabadikan momen indah ini (lebay.com).
Lanjut lagi dengan berbagai kebodohan-kebodohan yang kami lakukan mulai dari
foto ala personil dewi-dewi dan Teguh yang kesulitan mencari kamar mandi karena
“kebelet BAB” hahaha. Akhirnya dia mencari tempat strategis jauh dari
pemandangan indah ini.
Di Dalam Goa
Matahari semakin naik dan itu sudah memberikan tanda buat kita untuk
segera pulang. Kira-kira pukul 12.00 WIB kami memutuskan untuk melanjutakan
perjalanan pulang. Sebelum langsung pulang kami mampir dulu ke rumah saudara
teman kami (lumayan lah dapat bakso dan makanan gratis) haha. Next langsung
menuju kota
Lumajang tapi karena ivan memberikan tawaran yang menggiurkan yaitu mampir dulu
ke rumah neneknya dan memetik buah salak segar langsung dari kebunnya. kami
sempat pikir-pikir dulu dan setelah voting mufakat akhirnya kami pun setuju
untuk karena kata ivan jaraknya juga tidak terlalu jauh hanya sekitar 10 menit
perjalanan.
Di dalam Goa Lagi
Yang punya Blog
Katanya Cuma 10 menit perjalanan tapi kok jauh juga. Ternyata
perjalanan menuju rumah nenek ivan sangat jauh dengan jalan yang berkelok-kelok
melewati tebing-tebing dan menuju pelosok desa yang bahkan sinyal handphone pun
tidak mampu menjangkaunnya. Oke fine saya masih bisa sedikit agak tenang.
Kurang sedikit menuju rumah nenek ivan dan ban sepeda motor ivan pun mengalami
kebocoran. Dengan sedikit usaha akhirnya kami sampai juga di rumah nenek ivan
dan langsung mencari tambal ban. Setelah menyerahkan urusan ban kepada tambal
ban kami pun menunggu ivan yang bersama saudaranya menuju kebun salak untuk
memetik buah salah yang dia janjikan tersebut. Setelah sekitar 45 menit
menunggu dan ivan belum juga datang kami
yang tersisa di situ membuat video yang berisi isi hati kami dengan kebodohan dan
“kebohongan” public yang dia lakukan dengan mengatakan bahwa rumah neneknya
sudah dekat padahal masih sangat jauh.
Akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang Ivan dan sekarung salaknya
pun melegakan hati kami. Tapi sepertinya ada yang aneh dan ternyata sepeda Ivan
yang di tambal ban nya belum di kerjakan sama sekali arrrghhh. Darah kami
seakan mendidih sudah hampir 1 jam menunggu dan sepedanya belum di kerjakan
sama sekali. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.12 WIB dan kami belum
melanjutkan perjalanan pulang kami dan celakanya kami masih berada di pelosok
desa yang bahkan sinyal handphone pun enggan untuk menghampirinya dan
konsekuensi logisnya adalah kami tidak bisa mengabari orang tua kami tentang
keberadaan kami.
Berusaha menyalakan Perapian
Kesabaran kami pun di uji lagi ketika ivan dengan wajah innocent
nya mengajak kami tidak usah pulang dan
menginap di rumah neneknya saja. Saya dengan lantang menolak keras ajakan itu
seperti rakyat yang menolak kenaikan harga BBM heheh. Dia mungkin tidak tahu
kalau Ibu saya akan sangat marah besar jika tidak pulang rumah tanpa mengirim
kabar dan dengan No handphone yang tidak bisa di hubungi.
Setelah sabar menunggu dan menunggu akhirnya sepeda Ivan yang di
tambal selesai juga. Oke lets go home melewati jalan yang berbelok-belok dan
tebing-tebing lagi sebelum sampai di jalan raya besar. Tapi rupanya rintangan
belum juga selesai sepeda ivan sekali lagi menunjukkan tranda-tanda yang tidak
normal dan ternyata bannya bocor lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB
akhirnya kami menemukan tukang tambal ban lagi. Rupanya tukang tambal ban yang
ini lebih cekatan dari pada yang tadi sekitar 15 menit dan sepeda sudah siap di
gunakan lagi.
Gaya dulu sebelum masak
Sampai di pertigaan di jalan besar kami melakukan debat dan
musyawarah apakah harus pulang ataukah harus menginap di rumah saudara teman
saya yang tadi. Saya termasuk kubu yang dengan tegas menolak untuk menginap dan
harus pulang (maklum saya tadi hanya izin untuk main ke kota Lumajang saja dan tidak sampai ke
pelosok desa seperti ini hehe). Sedangkan yang lainnya memilih untuk tidak
pulang dan menginap di rumah saudara teman kami yang tadi dengan alasan hari
sudah hampir maghrib dan kita belum melewati piket nol dan jembatan perak yang
indah tapi katanya angker setengah mati tersebut. Saya mendebat kalau jumlah
kita kan juga banyak masak 7 orang laki-laki dewasa juga masih takut (walau
dalam hati juga saya juga tidak terlalu berani dan pikir-pikir juga) heheh tapi
secara logika saya masih bisa lari dari kejaran setan (tapi saya berharap agar
tidak bertemu dengan setan tentunya) tapi saya tidak akan bisa lari jika ibu
saya yang memarahi saya heheh.
Bung Fauzan
Mendidih
Setelah debat yang seru lebih seru daripada debat antara anggota DPR
di senayan akhirnya golongan yang ingin pulang menang hahah perjuangan saya
tidak sia-sia. Lanjut kawan, malam pun menjelang dan kami terus menggeber
sepeda motor kami. Melewati piket nol dan gladak perak hati saya berdebar hehe
semoga mitos yang ada tidak terbukti kami mengendarai sepeda agak lebih pelan
di sini karena jalannya yang berbelok-belok dengan kanan kiri jurang dan
penerangan yang tidak memadai selain itu jalannya juga sempit. Tiba-tiba saya
merasa ada tangan yang memegang kaki saya dan perasaan saya sudah tidak karuan.
Setelah saya lihat ternyata hanya tangan wahyu yang berpegangan di kaki saya. Setelah
melewati piket nol yang legendaris kami pun mulai lega.
Bagi-bagi makan
Ternyata masalah belum juga selesai Memasuki kecamatan Candipuro
ternyata ban sepeda Ivan bocor lagi. Tiga kali ban bocor di tempat yang sama
jelas sekali bahwa ban sepedanya harus segera di ganti. Akhirnya saya pun
menyerah karena jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB dan kami masih ada
di Kecamatan Candipuro walaupun di
paksakan untuk pulang tapi hal itu juga tidak akan efektif. Untung saja di
sekitar situ ada rumah saudara wahyu dan akhirnya kita menginap di situ.
Setelah menunggu ban Ivan selesai diganti saya menelpon rumah dan mengatakan
hal sebenarnya hehe. Setelah mendengarkan sedikit “omelan” akhirnya kami pun
menuju rumah saudara wahyu.
Makan Dulu
Liburan yang kami rencanakan
Cuma setengah hari itu akhirnya dengan sendirinya baerjalan lebih lama.
Melewati malam di tempat yang asing akhirnya kami memutuskan untuk mencari
rental Playstation untuk melepas lelah. Rupanya setelah perjalanan yang
melelahkan dan debat yang menguras tenaga akal sehat teman-teman saya mulai
rontok hehe. Lagi-lagi Ivan dan Teguh membuat kami sedikit bingung. Katanya dia
melihat rental Ps di pinggir jalan yang agak jauh dari rumah tempat kami
menginap.
Dengan rela dan senang hati kami melangkahkan kaki untuk menuju
tempat yang kami inginkan tersebut. Setelah capek berjalan-jalan dan
berkeliling untuk mencari tempat tersebut akhirnya kami menyerah dan memutuskan
untuk bertanya kepada warga sekitar. Ternyata jawabannya cukup mengejutkan
ternyata rental Ps yang kami cari-cari hanya berjarak beberapa meter saja dari
rumah saudaranya wahyu ckck benar-benar pasangan sahabat koplak.
Pagi hari
Lanjut, setelah puas bermain guitar hero dan saya kalah dengan telak
karena saya jarang bermain playstation kami memutuskan untuk mencari makanan.
Tidak banyak pilihan yang tersedia dan akhirnya kami memilih untuk membeli
beberapa bungkus mie instant dan memasaknya sendiri. Satu lagi yang unik kami
memasak menggunakan “tumang” atau tungku yang terbuat dari tanah liat. Hal itu
rupanya cukup merepotkan kami karena kami sudah terbiasa untuk memasak dengan
kompor gas =). Akhirnya makan malam pun di mulai dengan sangat nikmat karena
memang kami sangat mensyukuri dengan apa yang kami peroleh.
Gunung Semeru Tampak dari Kejauhan
Lahan hijau
Pagi hari menjelang dan kami pun bergegas untuk menikmati suasana alami
khas pedesaan dengan pemandangan utama gunung tertinggi di jawa yaitu gunung
semeru. Maklum candipuro adalah salah satu kawasan yang berada dekat dengan
gunung semeru. Selanjutnya kita berjalan-jalan menyusuri sawah dan melihat
sungai. Selesai berkeliling desa kami menuju rumah kembali dan musyawarah untuk
membagi rata hasil oleh-oleh salak dan kerupuk yang di bawah dari kunjungan
kemarin. Pembagian berlangsung agak tidak merata karena ada beberapa orang yang
tidak mengikuti secara langsung acara pembagian salak tersebut. Untungnya saya
melihat secara langsung pembagian tersebut heheh.
Gombes lagi
Setelah semua siap akhirnya perjalanan di lanjutkan dengan pulang ke
Lumajang dan lanjut menuju rumah masing-masing. Selamat tinggal goa tetes
selamt tinggal candipuro. Next time I will
come back ^_^.
Sebelumnya Sorry yak untuk sekarang saya gak tulis
tentang perjalanan jalan-jalan saya dulu tapi mau membahas yang lagi hangat di
perbincangkan di kelas saya yaitu Kelas GG Manajemen Universitas Negeri Malang
angkatan 2010 *Lengkap banget ya hehehe* Oke Langsung aja
Menurut arti kata Single adalah suatu keadaan di
mana kita sendirian dan tanpa pasangan. Untuk kalangan anak muda sih lebih
popular dengan kata jomblo mungkin ya. Untuk beberapa kalangan menjadi seorang
jomblo adalah suatu pilihan mungkin dengan berbagai alasan mulai dari ingin
focus kepada kuliah atau belajarnya, ingin bebas berpetualang tanpa di recoki
oleh pasangannya, atau masih belum bisa mencari pengganti sepadan buat sang
mantan pacar, sampai alasan agama dan itu sih terserah individunya
masing-masing. Dan anehnya lagi biasanya kaum jomblo ini menjadi bahan ejekan
teman-temannya dengan memvonis bahwa mereka adalah kaum yang tidak bahagia,
kaum yang paling memperihatinkan apalagi saat malam minggu tiba wahh pasti rame
banget tuh yang mem “bully-bully”
mereka gak peduli lewat media sosial atau Cuma lewat ejekan-ejekan antar teman.
Padahal si individunya sih asik-asik aja gak merasa mereka adalah orang yang
paling memperihatinkan atau orang yang paling sedih pada saat malam minggu.
Mereka juga enjoy-enjoy aja tuh
menikmati kesendirian mereka mulai dengan berkumpul dengan teman-teman atau
bareng keluarga, jalan-jalan ke kota lain sambil cari pengalaman baru atau
teman baru bareng teman yang punya visi yang sama (hal yang mungkin sulit di
lakukan mereka yang udah punya pasangan karena lazim nya mereka menghabiskan
malam minggu atau hari liburan mereka bareng pacar) atau mungkin sholat dan
membaca alquran di rumahnya =). Intinya sih menjadi jomblo gak se”menyedihkan”
apa yang di katakana mereka yang menghujatnya. Oh ya satu lagi menjadi jombli
mereka bisa berkenalan dengan lawan jenis lebih banyak tanpa takut di marahi
pasangannya hhehe.
Nah hal di atas yang mungkin tidak bisa di lakukan
oleh si Complicated atau si “Hubungan Rumit”. Menurut arti kata Complicated it has so many parts or aspect
that’s it is difficult to understand or deal with. udah tahu kan artinya??
Yak si rumit ini orang yang sudah mempunyai pasangan atau pacar tapi… eitt masih
ada tapi nya hubungan mereka biasanya dalam keadaan yang menggantung lebih
sering “berkelahi" nya dari pada romantic nya :p. Ada beberapa alasan yang
menyebabkan mereka biasanya “menggantung” Mungkin karena Hubungan Jarak Jauh
(LDR), Mungkin salah satu pasangan memiliki sifat posesif atau cemburuan yang
amat sangat Over dll. Banyak kasus yang melarang pasangan nya untuk tidak
keluar bareng sama si A atau si B dengan alasan tertentu bahkan untuk keluar
sama teman sekelas atau teman seperjuangan mereka aja kadang-kadang udah jadi
masalah yang menjadi Kronis banget. Lalu kenapa mereka masih bertahan??? Entah
lah banyak alasan juga buat ini tapi kebanyakan alasannya sih karena udah cinta
banget sama si pasangan mereka, kalau putus belum ada penggantinya (kayak ganti
spare part sepeda Motor aja deh kebanyakan mikir), atau yang lebih parah mereka
enggan putus karena gak mau di sebut “jomblo” oleh teman-teman mereka walaupun
harus menggadaikan kemerdekaan mereka sih *menurut saya lho*. Kenapa
menggadaikan kemerdekaan ya karena kadang-kadang akun facebook pacar yang lebih
sering buka daripada dia, akun twitter punya dia tapi si pacar yang lebih
sering berkicau bahkan yang lebih konyol kadang no hape aja harus tukar sama si
pacar sampek temennya males buat ngehubungi dia karena kalo di tlpn buat
ngerjain tugas atau keperluan yang lain bukan si A yang ngangkat malah pacarnya
gak enak banget kan. Sebagai penutup buat si rumit saya mau buat kesimpulan
bahwa menjadi rumit itu gak enak.. mau tau kenapa karena kalo kita mau deketin
cewek lain takut di anggep gak setia masih punya pacar kok udah PDKT ama cewek
lain tapi kalau gak PDKT sama cewek lain hati jadi tersiksa hehe.
Ya hidup memang sebuah pilihan jadi terserah anda
mau jadi si “Jomblo” atau mau si “Rumit”.
Palaga
adalah organisasi Intra Sekolah SMA Tiga Lumajang. Menurut Mbak Lilik salah
satu angkatan perintis yang ikut membidani lahirnya Palaga organisasi ini Di
bentuk pada 14 Februari 1998-1999 tangggal itu merupakan awal perjuangan
mendirikan Palaga namun karena beberapa hal akhirnya Dies Natalis Palaga di
peringati pada tanggal 22 Februari. Palaga didrirkan oleh sekelompok
siswa-siswi SMA 3 Lumajang yang peduli dengan kondisi lingkungan dan alam yang
secara terus menerus di eksploitasi tanpa adanya timbal balik yang sepadan, Selain
juga memiliki kesenangan dan juga hobi yang sama yaitu kegiatan outdoor. Anggota-anggota awal ini di
sebut sebagai angkatan perintis yang antara lain terdiri dari Mbak lilik, Angga,
Joko, Dimas, kurniawan dkk awal berdiri Organisasi ini di bina oleh bapak agus
dan ketua umum di pegang oleh Kurniawan.
Palaga
sendiri seperti layaknya organisasi-organisasi lainnya pasti pernah mengalami
sebuah pasang surut dalam perkembangannya. Mulai dari konflik antar anggota,
pergantian Pembina, sampai ketidak cocokan dengan pihak sekolah yang terkesan
membatasi kegiatan Palaga. Tapi hal itu harus kita syukuri “blessing in disguise” kata kerennya. Jika tidak ada masalah yang
menimpa palaga mungkin kita sebagai anggota akan tetap saja tidur, kurang
berbuat sesuatu dan biasa-biasa saja. Masalah itulah yang semakin membuat kita
dewasa, kompak dan tetap bertahan sampai sekarang.
Bongkar
pasang ketua umum dan susunan struktur organisasi menjadi ritual setiap tahun
ibarat kayu bakar yang menjadi bahan bakar tungku para anggota yang sudah
senior diganti dengan para junior. Hal ini bertujuan untuk memberikan anggota
yang lebih junior pengalaman dalam mengelola organisasi karena cepat atau
lambat para anggota senior tentu akan lulus dari SMA 3 Lumajang dan tentu saja
secara otomatis mereka tidak bisa lagi menjadi pengurus dan akhirnya mereka
menjadi anggota luar biasa (ALB).
Untuk
sistem perekrutan anggota sendiri Palaga melakukannya setiap tahun. Sebelum menjadi
anggota baru para “calon anggota” palaga di didik dan di gembleng oleh para
senior mereka. Para calon anggota baru di beri ilmu-ilmu dasar dalam melakukan sebuah
perjalanan di alam bebas mulai dari navigasi darat, survivaldll. Biasanya di
lakukan di hutan jati krasak atau tempat lain menyesuaikan dengan kondisi yang
memungkinkan. Setelah menjalani diklat lapangan para calon anggota baru belum
resmi menjadi anggota palaga, mereka harus mengambil scraf palaga di puncak
gunung Lemongan (1671 Mdpl). Dalam pengalaman pertama kali mereka mendaki
gunung ini tentu mereka tidak berjalan sendiri mereka di damping oleh
senior-senior mereka untuk memastikan keselamatan mereka.
Dalam
kesehariannya sendiri Palaga menganut Etika yang di sepakati oleh semua Pecinta
alam dan di sahkan di ujungpandang pada 24 Januari 1974 dalam Kode Etik Pecinta
Alam yaitu :
ØPecinta alam Indonesia sadar bahwa alam beserta
isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
ØPecinta Alam Indonesia sadar bahwa Pecinta alam
sebagai makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa.
Selain kode etik pecinta
alam di atas di dalam palaga sangat di tekankan tentang prinsip dasar dalam
kegiatan kepetualangan yaitu : Take
Nothing but picture, Leave nothing but footprint, Kill Nothing but time. Palaga
sendiri mempunyai slogan alam ku, alam mu alam kita semua slogan ini selalu di
tanamkan kepada anggota baru untuk mempresentasikan bahwa bumi kita hanya satu
dan kita semua wajib menjaga kelestariannya.
Fasilitas yang di miliki
oleh Palaga sendiri sekarang terbilang lebih lengkap untuk ukuran kabupaten
Lumajang. Sekarang mereka sudah memiliki wall panjat diding sendiri yang berada
di lapangan tengah sebelum ini para anggota palaga yang ingin melatih kemampuan
mereka harus pergi dulu ke Stadion dan menyewa wall yang berada di stadion
semeru Lumajang bersyukurlah bagi paraanggota yang sempat menikmati fasilitas ini rawat dan jagalah wall yang
telah di perjuangkan oleh senior-senior kalian terdahulu. Sekian dulu untuk
tulisan kali ini semoga bermanfaat
kali ini saya tidak akan bercerita tentang perjalanan atau cerita petualangan
dulu, tapi sekarang saya mau membahas tentang salah satu aspek penting dalam
menjalani kehidupan terutama bagi anak kos yap saya akan membahas tentang makanan
=). Malam itu sekitar pukul setengah Sembilan lebih yah hampir jam Sembilan
malam lah tiba-tiba saja saya sangat “ngidam”
tahu telur. Sebenarnya sih saya sudah mencoba hampir semua penjual tahu telur
di sekitar kos-kosan saya mulai dari yang dari berbentuk rumah makan sampai
gerobak biasa. Tapi mungkin saya rasa tahu telur cak nur lah yang menjadi
juaranya (masalah selera sih bisa beda ya).
Cak nur sendiri mangkal di sekitar kos-kosan saya sih kalau menurut
jadwal jam setengah Sembilan seharusnya sudah stand by di dekat patung singa. Tapi setelah saya sambangi kok
belum nongol juga akhirnya saya mengulur waktu sambil mengambil laundry,an teman saya dulu dengan
harapan sekembalinya mengambil cucian cak nur sudah datang dan sudah siap di
sekitar patung singa. Tapi setelah saya mengambil cucian ternyata cak nur belum
juga datang wah saya sempat berpikir kalau cak nur tidak datang tapi gimana nih
sudah pengen banget tahu telur nya.
Oke lah kami kembali dulu ke kosan sambil menaruh cucian dan istirahat
dulu dan ngobrol dulu sambil menunggu cak nur kalau-kalau saja sudah datang.
Teman saya sih bilang kalau cak nur belum stand
by di patung singa berarti dia masih jualan di Jl.MT.Haryono sekitar betek
sana tapi itu kan lumayan jauh masak iya mau di samperin ke sana. Akhirnya
dengan berat hati saya mau beli nasi goreng saja lah. Tapi sebelum itu saya
mengajak Evan untuk lewat jalan yang gak biasanya dengan harapan bisa ketemu
cak nur (masih berharap). Sekali lagi saya lihat ke arah patung singa tapi
tetap saja nihil dia belum datang.
Pergi ke tempat jualan nasi goreng aja deh tapi ketika melewati sebuah
gang dari kejauhan saya sempat melihat sebuah gerobak tahu telur dan rasanya tidak asing bagi saya
wahhh ternyata cak nur masih jualan di gang sebelah yang agak jauh dari kosan
saya dengan cepat saya langsung menghampirinya =). Akhirnya ketemu juga nih
setelah pesan dan menunggu tahu telur saya menyempatkan menginterogasi penjual
tahu telur andalan anak kosan daerah ambarawa ini. Saya sempat tanya kenapa dia
belum juga nongol di patung singa padahal ini kan sudah jam 9 ehh ternyata dia
belum tahu kalau ini sudah jam 9 malam.
Yang membedakan tahu telur cak nur dengan tahu telur yang lain mungkin
bumbunya ya tapi selain itu kalau penjual yang lain selalu menggunakan tahu
yang mentah lalu di campur dengan telur tapi tidak dengan tahu telur cak nur
sebelum meracik antara tahu dan telurnya dia dia menggoreng terlebih dahulu
tahu nya menjadikan cita rasa nya berbeda daripada penjual tahu telur yang
lain.
Hari itu sempat hujan sedikit dan saya sempat bertanya gimana nih kalau
hujan gak pulang aja dandengan enteng
dia menjawab lha kalau pulang keluarga saya makan apawuiikk jleebb bener juga sih. Oh iya dia juga
bercerita kalau hari minggu dia tidak jualan karena hari khusus bersama dengan
keluarganya waahh benar-benar sosok orang yang memprioritaskan keluarganya ya
harus nya menjadi panutan penjual tahu telur yang lain nih cak Nur =)