Monday, 7 May 2012

Ranubedali Satu Tempat Berjuta Cerita


Salah satu tempat paling indah di Kabupaten Lumajang. Ranubedali adalah salah satu dari rangkaian kawasan Segitiga Ranu, dengan jarak 7 Km dari Ranu Pakis atau 6 Km dari Ranu Klakah kita sampai pada Ranu Bedali Kecamatan Ranuyoso. Obyek wisata ini mempunyai ketinggian  700 M dari permukaan laut dengan luas danau 25 Ha dan kedalaman 28 m. konon jika air ranu berubah menjadi merah aka nada Naga raksasa yang muncul dan mencari tumbal. Walaupun saya sering melihat air ranu berubah menjadi merah tapi saya tidak pernah melihat naga tersebut . Namanya juga mitos hehe 

Entah sudah berapa cerita yang pernah saya buat di sini. Mulai zaman SMP yang menjadikan tempat ini sebagai tempat terpilih untuk "mbolos" heheh perbuatan yang tidak patut di tiru (saya hanya pernah bolos sekolah satu kali dan pilihannya adalah pulang ke rumah dan menjelajahi ranu bedali bersama 2 orang sahabat karib saya). saya sangat ingat ketika saya harus berdebat dengan teman saya tentang jalan yang harus di lalui agar tidak ketahuan oleh guru bimbingan konseling kami, maklum rumah teman saya tempat berkumpul untuk merencanakan

Komplotan saat membolos
 "pembolosan" kami memang dekat dengan rumah guru kami. saya sangat ingat ketika teman saya kentung bertanya  kepada arif " to bener ta dalan,e iki engkok onok bu ririn (to benar jalan yang ini nanti kalau salah bertemu bu ririn) guru BK saya. arif yang lebih di kenal dengan panggilan buto menjawab bener iki dalan,e biasane uwong,e lewat dalan sebelah kok (iya benar jalannya yang ini biasanya bu Ririn lewat jalan sebelah kok).
Foto di bawah air terjun
Tetapi tanpa kami duga kami melihat sesosok orang yang sama persis dengan guru BK kami dan ternyata dia memang guru kami hehehe singkat cerita dia langsung menginterogasi kami dan kami pun mengeluarkan jurus terakhir kami. Pura-pura mau berangkat ke sekolah dan beralasan telat (waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 07.10 wib dan tentunya di sekolah sudah mulai upacara bendera karena hari itu adalah hari senin.
Teman SMP
Setelah lolos kami pun segera mencari angutan umum dan langsung menuju rumah saya dan menuju Ranubedali. Saya juga ingat kami turun di klakah dahulu karena harus membeli film untuk Kodak saya (maklum zaman SMP saya belum trerlalu akrab dengan camera digital). Bukan hanya menjadi tempat berkumpul tapi tempat ini juga sukses menjadikan saya sebagai tour guide profesional. Mulai dari teman-teman SMP yang terpukau oleh foto-foto pemandangan  saya saat "mbolos" dan mereka langsung tertarik untuk pergi ke sana. Walaupun akhirnya keesokan harinya kami harus menerima hukuman karena ketahuan mbolos tapi itu saya anggap sebagai kanangan masa sekolah saya yang tidak akan pernah terulang dan saya tidak pernah menyesal untuk peristiwa hari itu =).  
Pemandangan dari atas


Bahkan bukan hanya teman yang saya kenal yang menjadikan saya sebagai tour guide. Saat ada rombongan dari salah satu sekolah ternama di Kabupaten Probolinggo mengunjungi tempat ini pun saya di daulat menjadi tour guide. Ini karena teman saya yang kenal dengan rombongan tersebut hehe jadi saya hanya menemani saja. . Saat itu teman saya wahyu mengejek rombongan mereka dengan rombongan "endel" karena ada seorang di antra mereka membawa payung haha. Tetapi dia juga ingin berkenalan dengan dia yang membawa payung itu tapi rupanya wahyu salah mendengar dia mengira  namanya adalah "Vista" padahal nama sebenarnya adalah Sista. Setelah berkeliling ternyata "turis  " kami sudah sangat kecapekan dan segera ingin pulang.Rupanya mereka kembali ke rumah teman mereka lalu masak-masak dan makan-makan tanpa mengajak saya ckck. Ditempat ini juga terdapat air terjun  yang cukup bagus yang menjadikan pemandangan di sini sangat indah
bersama teman

Pa-13

 
Saat SMA pun kami dan teman-teman PA-13 juga mengunjungi tempat ini. Entah siapa yang memulai hari terakhir seusai ujian tengah semester kami gabungan anak IPA dan IPS (jarang-jarang anak IPA dan IPS bersatu kan heheh) juga mengunjungi tempat ini juga. Saya yang awalnya tidak kenal akrab dengan anak IPA dan saat itu saya juga tidak ingin berkenalan lebih akrab dengan mereka karena di dalam mindset anak IPS anak IPA adalah sekumpulan kaum borjuis yang selalu di bela dan di bangga-banggakan oleh guru-guru heheh. Walaupun tidak semuanya begitu dan tentu saja dengan teman-teman saya itu . Saat itu kami berkumpul seakan tidak ada pembeda lagi benar juga kata pepatah yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang”. Sejak saat itu kami lebih sering berkomunikasi dan bermain bersama. 

Terjebak lumpur hidup


Di sini juga menjadi tempat saya bertemu dengan dia yang akhirnya banyak mengisi hari-hari pada masa putih abu-abu (lagi-lagi karena ajakan wahyu yang rupanya sempat menipu saya karena dia bilang ada hal yang sangat penting dan saya harus segera ke rumahnya). Dia yang sempat membuat saya bersebrangan dengan teman-teman seperjuangan  saya (tapi saya percaya bahwa suatu saat persahabatan juga harus di uji untuk mengetahui seberapa kuat persahabatan tersebut =). Satu dari dua wanita yang menghiasai kisah “cinta monyet” saya pada masa SMA. Akhirnya saya harus berterima kasih kepadanya untuk semua kesabarannya mengajarkan hal-hal yang tidak saya mengerti (tapi maaf saya benar-benar tidak mengerti ketika dia mengajarkan soal-soal matematika hehe :-p , untuk semua waktu dan pengorbanannya dan tentu saja untuk semua cerita masa muda kita. Thanks a lot  and I will always remember our history :-D .

Santai sejenak

 
Pemandangan dari bawah


Saya menganggap ini adalah danau paling indah no 2 setelah Ranukumbolo tentunya. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dengan rumah saya hanya kira-kira 15 menit jalan kaki atau hanya 5 menit naik sepeda motor Untuk jalurnya sendiri jika dari arah Surabaya atau malang bisa turun di perempatan Ranuyoso dan belok ke arah kiri sedangkan jika dari arah Jember belok kearah kanan . Yang menantang adalah permukaan air berada jauh di bawah permukaan tanah. Sehingga untuk mencapai daratan tepi danau dibutuhkan kesehatan prima dan menjadikan tantangan bagi mereka yang berjiwa muda. Meskipun demikian panorama danau ini dilihat dari atas cukup mengasyikkan. 
Kolam renang tampak atas

Kolam renang peninggalan Belanda

sekali lagi tempat ini wajib di kunjungi apabila datang ke lumajang. Visit Ranubedali lah heheh biayanya juga tidak terlalu mahal cocok untuk para backpacker
NB : Foto yang terlihat masih buram adalah foto zaman SMP menggunakan camera Kodak yang saya scan lagi . Sedangkan foto yang sudah jelas adalah foto zaman SMA yang sudah menggunakan camera digital.


Friday, 20 April 2012

Malang – Blitar- Kediri Part I



Saya  bingung harus memberi judul apa untuk perjalanan saya kali ini. Tetapi  yang jelas seperti perjalanan-perjalanan saya yang lain tetap menarik dan berkesan. Akhir pekan ini (tanggal 17 Maret 2012) saya sengaja untuk tidak pulang kampung ke Lumajang seperti  rutinitas saya setiap minggu. Hal itu disebabkan karena saya punya rencana untuk berkeliling di Blitar dan di Kediri. Kebetulan di kedua kota tersebut saya punya teman yang cukup  akrab sehingga saya tidak bingung mencari tempat menginap dan mendapat makanan gratis heheh (kan ceritanya backpackeran).
Selamat datang di kota "Patria"
Memulai perjalanan dari malang pukul 10.24 Wib saya berangkat naik sepeda motor bersama Evan Haris teman saya mulai di kosan lama dulu. Perjalanan Malang – Blitar tidak membutuhkan waktu yang sangat lama kira-kira hanya 2 jam lebih sedikit itu pun dengan perjalanan yang tidak ngebut  (karena kami memang menikmati perjalanan selain itu karena memang rem depan motor Evan tidak berfungsi alias blong hehe).
Rumah-rumah penduduk yang memiliki pagar yang unik
 Memasuki kota Blitar saya melihat keunikan rumah-rumah penduduk. Kebanyakan rumah di sini memiliki pagar yang tidak lebih tinggi dari pinggang orang dewasa dan di tengah-tengah pasti ada seperti gapura (biasanya bergambar lambang kabupaten dan lambang provinsi) tetapi pagar ini tidak memiliki tutup/pintu yang biasanya terbuat  dari besi  sehingga semua orang bisa masuk dengan mudah. Pagar seperti ini yang saya tahu bisa juga kita jumpai di Kab. Tulungagung, Trenggalek, dan sebagian Kediri. Hal ini tidak akan pernah kita temui di kota Lumajang dan sekitarnya. Setelah perjalanan kira-kira 2 jam pukul 12.21 wib kami sampai di rumah teman saya yang bernama  Danang di Blitar.
Patung Bung Karno
Setelah beristirahat sekitar pukul 16.11 Wib kami bertiga menuju makam bung Karno.Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan siapa bung Karno itu karena semua itu karena semua warga negara Indonesia pasti sudah tahu siapa beliau. Menyusuri kota Blitar di sore hari dengan Guide profesional asli Blitar sangat menyenagkan. Sepanjang jalan saya di beritahu  tempat-tempat bersejarah. Saya juga di beritahu bahwa di Blitar juga ada kampus UM (Universitas Negeri Malang). Saya sempat bertanya tentang arti dari “Blitar kota Patria” tetapi rupanya yang di tanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.
Gambar Bung Karno yang memintarestu ibunya

Kampus UM di Blitar
Saya sedikit kecewa ketika sampai di perpustakaan makam Bung Karno (yang katanya  perpustakaan terbesar no 2 di Indonesia) ternyata sudah tutup. Karena kita memang datang telah sore. Selanjutnya kita melanjutkan perjalanan berkeliling di area makam Bung Karno. Di sini juga ada gong perdamaian dunia (world peace gong) walaupun saya tidak percaya dengan adanya gong tersebut karena meskipun ada 10.000 gong serupa tidak akan menghentikan peperangan di dunia ini. Tetapi saya tetap mengapresiasi keberadaan gong tersebut karena itu berarti telah ada niat baik untuk menjaga kedamaian dunia.
World Peace gong
Puas berkeliling di area makam Bung Karno kami melanjutkan perjalanan ke candi penataran. Menurut teman saya yang kuliah di jurusan sejarah Universitas Negeri Malang Jefry Fendi  Saputra candi penataran adalah candi peninggalan tiga kerajaan besar di Indonesia yaitu kerajaan Kediri, Kerajaan Singosari dan kerajaan Majapahit. Pembangunan candi ini di awali oleh kerajaan kediri tetapi belum sempat menyelesaikan bangunan ini kerajaan kediri sudah runtuh karena serangan dari kerajaan Singosari. Seperti halnya kerajaan kediri kerajaan Singosari juga runtuh sebelum menyelesaikan pembangunan candi ini sehingga pembangunannya di lanjutkan oleh kerajaan Majapahit. Di depan komplek candi Penataran kami di sambut oleh 2 buah patung “Retjo Pentung” 2 buah patung yang selalu ada di bangunan-bangunan bersejarah.
Patung "Retjo Pentung"
Karena hari sudah mulai petang kami pulang dahulu. Ditengah perjalanan kami mampir dulu di toko baju bekas yang biasa di sebut dengan toko “babibu” ada sedikit kejadian lucu ketika danang di kira penjaga toko tersebut (muka dan dandanan danang cukup meyakinkan untuk menjadi pelayan toko tersebut mungkin hahah). Karena hujan deras dan angin kencang kami mampir dulu di warung bakso. Saya juga sempat mengunjungi rumah yang dulu di tempati Bung Karno yang kini telah di beli oleh pemkot Blitar dan kini di jadi museum. Sekitar pukul 18.30 wib kami pulang Evan kembali ke rumahnya sendiri karena bajunya basah kuyup. Setelah mandi pukul 20.06 wib kami pergi ke rumah teman Danang dan di situ sudah berkumpul teman teman Danang dan Evan.
Komplek candi Penataran
Pintu gerbang candi Penataran
Sebenarnya saya masih memiliki beberapa teman lagi di Blita. Sekitar pukul 22.00 wib saya pergi untuk “ngopi” bersama Danang, Evan dan teman satu kelas saya bernama Sinchan. Shincan mengajak kami  menuju tempat ngopi yang menarik. Ternyata dia mengajak kami ke parkiran makam Bung Karno. Yang lebih mengejutkan lagi ternyata di sana ada pertunjukan layar tancap dan film yang di putar adalah film yang pemeran utamanya adalah Benyamin S. Sayangnya saat kami sampai filmnya sudah mau habis. Di Blitar saya banyak menemukan peninggalan-peninggalan sejarah bangsa Indonesia mulai dari jejak kerajaan-kerajaan di Indonesia yang berupa candi-candi, makam proklamator bangsa Indonesia dan cerita-cerita yang terdapat dalam film-film zaman dahulu. Karena hari sudah mulai larut malam akhirnya kami pulang karena besok saya harus melanjutkan perjalanan menuju Kediri

Artikel Selanjutnya : Malang – Blitar- Kediri Part II

Monday, 2 April 2012

Gunung Penaggungan, Aka Gunung Pawitra, Miniatur Mahameru


Perjalanan di mulai tanggal 4 Maret 2012 dari Surabaya. Pukul 10.09 kami start dari Medaeng menuju pos perijinan di kecamatan Trawas Kab. Mojokerto. Ditengah perjalanan dari Surabaya melewati Sidoarjo dan Pasuruan kami berpapasan dengan pendukung kesebelasan Persebaya Surabaya, para Bonek ini akan menyaksikan pertandingan Persebaya Vs Arema Indonesia. Derby Jawa Timur yang penuh dengan gengsi yang di selenggarakan di Gelora Bung Tomo.
Pos perijinan G. Penanggungan

jalan setapak 
     


Jalan menuju puncak

Pukul 12.05 kami sampai di pos perijinan. Setelah istirahat sebentar  dan menitipkan sepeda motor kami berangkat menuju puncak penanggungan. Tidak berapa lama kami berjalan tiba-tiba ada sebuah pick up tua milik warga sekitar yang hendak mengambil kayu (kalau saya lihat hutan disekitar penanggungan adalah hutan produksi. Pohon-pohon disini lebih berupa pohon produksi, selain itu ada juga pohon durian dan perkebunan tebu).

Aris Daeng beristirahat



Hampir sepuluh menit kami menumpang akhirnya kami turun karena pick up nya akan berbelok arah. Jalan menuju puncak langsung menanjak dengan jalan yang terdiri dari tanah-tanah dan batu-batu cadas. Pukul 15.35 samapi didataran yang semula kami kira adalah puncak penanggungan tapi ternyata hanya puncak bayangan. Awalnya kami akan mendirikan tenda disitu tetapi teman-teman yang lain memutuskan untuk meneruskan perjalanan, karena cuaca juga masih cerah. Sekitar 20 menit kami berjalan hujan mulai turun walaupun tidak terlalu deras. Setelah berjalan terus kami menemukan sebuah gua (sebenarnya hanya sebuah  batu yang sangat besar yang menumpuk pada batu yang lain yang juga sangat besar sehingga membentuk gua)
Berada di rumah "Gua"
Setelah hujan cukup reda kami melanjutkan perjalanan. Kira-kira pukul 16.25 Wib akhirnya kami sampai di puncak gunung penanggungan. Awalnya kami sempat mengira jika puncak ini juga  merupakan puncak bayangan. Kabut yang sangat tebal membuat kami kesulitan untuk memastikan itu benar-benar puncak penanggungan atau bukan jarak pandag saat itu tidak lebih dari 4 meter saja. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat yang baik untuk mendirikan tenda dahulu . Tapi rupanya tidak ada tempat yang cocok untuk membuat tenda karena rute dari tadi hanya berupa lereng-lereng yang  tidak memungkinkan untuk mendirikan tempat berteduh. Untuk mendirikan tenda jga sangat tidak memungkinkan. Karena cuaca yang buruk (takut ada petir yang mampir ke tenda kami) akhir nya kami putuskan bahwa kami harus kembali turun. Ada dua opsi pilihan pertama kembali ke puncak bayangan atau hanya di gua tadi. Saya lebih memilih untuk kembali ke gua saja karena kalau kita harus kembali ke puncak bayangan akan membuang banyak tenaga karena jaraknya sangat jauh.


 Setelah membersihkan gua dan menata tempat tersebut senyaman mungkin meskipun tidak akan senyaman di rumah sendiri hehe ^_^. Ditemani alunan lagu must have been love nya ROXETEE (trendding topic perjalanan kali ini selain lagu iwak peyek dan GBT) Kami membuat hidangan makan malam. Dengan sedikit usaha akhirnya jadilah nasi "galau" dan kopi panas untuk hidangan makan malam ini. Penanggung jawabnya adalah cheff Rookie Arnolds yang tanpa sepengetahuan saya dan Aris dia rupanya telah memberikan sentuhan magic nya yang membuat nasinya menjadi "galau" dan gosong hahah just kidding bro.
Tiga pendaki tangguh


Ketika akan memulai makan malam ada dua orang pendaki lain yang datang dalam kondisi basah kuyup mampir ke "rumah gua" kami. Sesuai dengan azaz kemanusiaan akhirnya kami menawari mereka untuk makan bersama kami. Tetapi tampaknya mereka ragu untuk mencobanya takut di racuni rupanya haha, walaupun akhirnya habis juga. Malam hari kami lewatkan dengan melihat kelap kelip lampu kkota yangsepertinya sangat kecil. Tetapi pemandangan saat itu sangat indah. Dihadapan kami juga berdiri gagah dua gunung yaitu gunung Arjuno dan gunung Welirang (perjalanan selanjutnya  saya ingin menikmati pemandangan dari puncak kedua gunung tersebut). Kami benar-benar menikmati keindahan ciptaan Allah SWT.
Kebaikan mengalahkan kemungkaran

Ditemani secangkir kopi hangat, beberapa batang Mild dan camilan yang benar-benar nikmat (karena tida ada yang jualan lagi di gunung heheh) kami banyak bercerita tentang pengalaman kami masing-masing. Aris yang bercerita tentang betapa nakalnya dia saat masih sekolah dulu. Tentang kebiasaan merokok saat bolos sekolah sampai dia di kasih rokok paling enak oleh gurunya hehehe (sayangnya saya rupa nama rokok tersebut) dan yang paling seru adalah kisah cintanya yang bagaikan novel (fight for your choice kawan heheh) . Rookie yang harus melawan tirani penguasa dalam keluarganya. Perjuangannya untuk mencari kebebasan. semoga om kamu yang katamu adalah pendeta tidak mengutukmu kawan hahah. Kisah cintanya yang  tidak jelas (makanya dia lebih memilih menjalani hari-harinya sekarang dengan hamster kesayangannya hahah ^_^ (Sorry rok saya harus menyampaikan kebenaran kepada masyarakat luas). Saya sendiri tidak banya bercerita karena masa kecil saya sudah sangat bahagia dan tidak banyak cerita konyol yang layak untuk di bahas haha (benar-benar objektivitas penulis harus di pertanyakan) dan sedikit tentang "dia". Ketika kabut mulai turun dan hujan juga ikut bersamanya akhirnya kami tidur di "rumah gua" kami lagi.

Puncak Penanggungan

 
Terbangun karena tetesan air hujan dari atas gua saya tida bisa menikmati matahari terbit karena kabut yang terlalu tebal menutupi pandangan kami. Pukul 07.52 wib kami kembali menuju puncak penanggungan hanya sekedar melihat karena di puncak masih tetap berkabut dan hujan. Tentang puncak penanggungan memang benar yang kemarin. Jadi yang kemarin bukan puncak bayangan lagi. Pukul 10.05 wib akhirnya kami turun dan sampai di pos perizinan pukul 12.05 wib. Kami hanya sebentar saja beriistirahat karena rencananya kami akan mampir dulu ke pemandian air panas pacet.

Friday, 9 March 2012

Gunung Lawu Via Jawa Timur (Mendaki 3265 Mdpl Perjalanan Panjang Menuju Gunung Tempat Pemoksaan Prabu Brawijaya V)

Sebenarnya perjalanan ini sudah direncanakan keika kami sedang mendaki gunung semeru pada peringatan hari sumpah pemuda yang lalu. Ketika teman saya Aris Daeng berbicara tentang rencana pendakiannya selanjutnya. Gunung lawu mempunyai ketinggian sekitar 3265 Mdpl. Terletak diantara perbatasan jawa timur dan jawa tengah dan bisa di daki dari 2 arah yang berbeda pula. Yaitu dari pos Cemoro Sewu (Magetan, Jawa Timur) dan pos Cemoro Kandang (Karanganyar, Jawa Tengah).
Tanggal 30 Desember 2011 pagi saya dan 6 orang lainnya telah berkumpul di terminal Bungurasih Surabaya menuju Magetan. Tapi karena bus yang menuju Magetan langsung hanya satu setiap hari dan kami telah ketinggalan maka kami memutuskan transit dulu di terminal Maospati Madiun. Selanjutnya menuju Magetan menggunakan bus kecil. Dari terminal Magetan menuju pos perijinan di cemoro sewu kami harus menyewa colt L-300. Kami harus pintar tawar menawar harga agar mendapat harga yang murah.
Pos Perijinan Cemoro Sewu


Kami sampai di Pos Cemoro Sewu sekitar pukul 16.00 wib dengan kabut tebal yang menyelimuti tempat tersebut. Bahkan untuk dapat melihat keseberang jalan saja sudah tidak bisa. Karena hari sudah hampir gelap setelah sholat kami segera mendirikan tenda. Kami memutuskan bermalam disini karena tenaga anggota tim telah terkuras selama perjalanan dari surabaya menuju pos perijinan.
Foto Sebelum Menuju Puncak

Setelah makan tidak banyak kegiatan yang kami lakukan. Bahkan teman-teman sudah tidur. Karena bosan akhirnya saya, ismail dan pak siwi pergi melihat-lihat pos cemoro sewu dan sekaligus sholat isya’. Kami sempat berbicara dengan ibu penjaga kios toko disini. Dia banyak berbicara tentang banyaknya pengunjung dimalam 1 syuro. Tentang larangan-larangan apa saja yang harus ditaati saat mendaki gunung lawu. Dia juga bercerita bahwa kami beruntung karena hujan dan angin kencang sudah tidak ada lagi. Karena seminggu sebelum kami mendaki setiap hari selalu turun hujan disertai angin kencang. Malam telah larut kami pun pamit kembali ke tenda dan istirahat agar esok pagi kondisi sudah siap. Keesokan harinya sabtu 31 Desember pukul 07.00 wib semua rombongan sudah bangun. Setelah membeli sarapan (tidak sepeperti gunung-gunung lain, digunung lawu banyak sekali orang jualan) dan packing kami memulai perjalanan. Diawali dengan doa untuk keselamatan semua anggota tim.

Pos Satu

Pos Tiga

Rute yang langsung menanjak dan jalan yang terbuat dari batu-batuan cadas lumayan membuat nafas kami kembang kempis. Setengah jam berjalan kami sampai pada sebuah gubuk (yang kami kira itu adalah pos 1), kami istirahat sebentar disitu ternyata perkiraan kami salah tempat itu ternyata hanya sebuah gubuk tempat persinggahan para petani.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami sampai dipos 1 sekitar pukul 11.00 wib. Perjalanan dilanjutkan dan sampai pos 2 sekitar pukul 14.07 wib. Kami istirahat cukup lama di pos 2 dengan suguhan teh hangat dan pisang goreng. Karena terlalu lama istiraht di pos 2 kami memutuskan untuk tidak istirahat di pos 3. Dalam perjalanan menuju pos 4 kami bertemu dengan jalak Gending. Burung yang dikeramatkan oleh warga sekitar gunung Lawu. Konon bila perjalanan kita di ikuti atau ditemui oleh jalak gending maka perjalanan kita akan selamat sampai tujuan asalakan tidak mengganggu jalak Gending tersebut. Mitosnya jalak Gending tersebut adalah penuntun arah pendaki
agar tidak tersesat dan menunjukkan arah yang benar.
Pos Empat

Jalak Gending

Pukul 18.00 wib kami sampai di mata air sendang drajat. Karena sudah mulai hujan perjalanan kami percepat dan sampai di mbok yem kira-kira pukul 18.45 wib. Kami tidak mendirikan tenda selain karena cuaca yang hujan cukup deras tapi juga karena di mbok yem telah disediakan tempat buat pendaki beristirahat. Malam pergantian tahun kami lewatkan dengan tidur karena terlalu lelah. Mungkin hanya rookie dan ismail saja yang sempat melihat kembang api tanda pergantian tahun. Anggota yang lain sudah tidur lelap memulihkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak hargo dumilah esok pagi.
Sun Rise dari Puncak Lawu


Keesokan harinya pukul 06.00 wib kami melanjutkan perjalanan dan mencapai puncak hargo dumilah pukul 06.20 wib karena jarak antara mbok yem dan puncak tidak terlalu jauh kami hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di puncak.
Menikmati Keindahan Sang  Pencipta


Keadaan di puncak lawu sangat ramai karena saat itu tahun baru. Setelah puas menyaksikan pemandangan dari puncak lawu pukul 08.00 akhirnya kami turun. Sampai di mbok yem kami memasak dulu untuk mengisi perut yang telah keroncongan. Ada kejadian lucu ketika kami akan turun. Karena logistik yang kami bawa terlalu banyak dan di puncak lawu ternyata ada yang jualan makanan, maka kami memutuskan untuk menukarkan beras kami sberat 2 kg dengan 1 pak rokok surya. Rookie dengan senang hati menukarkan beras tersebut kepada mbok yem.
Tugu Puncak Hargo Dumilah
Anak Metal di Puncak Lawu


Pukul 11.20 wib baru kami turun menuju pos perijinan. Perjalanan cukup lancar dengan hanya beberapa kali saja istirahat sebentar. Tetapi di pos 2 karena cuaca dingin dan saya tidak memakai jaket saya sempat masuk angin. Tetapi setelah istirahat sebentar kondisi saya pulih kembali. Hujan deras membuat perjalanan kami membuat kami berteduh cukup lama di pos 1. pukul 16.04 wib kami kembali meneruskan perjalanan menuju pos perijinan cemoro sewu. Pukul 17.00 tepat kami sampai di pos cemoro sewu. Meneruskan perjalanan menuju terminal Maospati Madiun dengan menyewa colt lagi akhirnya pukul 01.10 kami sampai di Surabaya dengan selamat.

Sendang Drajat





Beberapa Larangan Baki Para Pendaki


1. Mengganggu jalak gending
2. Mengenakan ikat kepala bercorak gadung
3. Menggunakan kain sutera warna hijau
4. Mengambil bunga edelweis
5. Berbicara sombong selama perjalanan
6. Merusak tempat yang dikeramatkan


Anggota Tim

1. Fery Puji Nova
2. Ismail suffer
3. Pak Siwi
4. Aris Daeng
5. Rookie Arnold
6. Ieva Sakkipo
7. Risky

Monday, 19 December 2011

Mimpi Kita

ketika semua tiba pada saatnya
suatu masa ketika kita bermimpi
meraih puncak tertinggi ini
puncak yang konon dewa-dewa pun bertempat tinggal disana
yang akhirnya membawa kita berpetualang mengarungi jalan
setapak yang sepertinya tidak punya ujung
kabut tipis yang menyelimuti ranukumbolo dan dinginnya angin
yang menusuk hanya menjadi pemanis perjalanan
kita yang sempurna
ketika aku melihat wajah-wajahmu
wajah perkasa yang selalu menemaniku
semuanya menjadi indah
seindah semburan debu yang kita lihat
di puncak jonggring salaka
ketika kita menikmati dari balik bukit
sambil bermimpi untuk meraihnya
akankah kita masih akan bermimpi
aku dan kalian melihat hijaunya alam
ketika kesunyian dan kebisuan ini
semakin menjadi aku dan kau hanya bisa terdiam
kawan terimalah tanganku ini
jabatlah lebih erat sampai kita
menyelesaikan akhir perjalanan kita

Thursday, 8 December 2011

Ranukumbolo Danau Eksotik di Kaki Gunung Tertinggi di Pulau Jawa

Ranu kumbolo yang terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah ranu yang terbentuk dari massive kawah gunung jambangan yang telah memadat. Ranukumbolo atau dalam bahasa Indonesia berarti danau memiliki luas sekitar 14 ha. Berada di ketinggian sekitar 2400 mdpl biasanya di pakai sebagai camping ground sebelum mendaki gunung semeru (3676mdpl). Ditepian Ranukumbolo terdapat prasasti yang di duga  peninggalan kerajaan Majapahit. Danau ini sendiri merupakan satu dari 4 danau yang ada di sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. 3 danau yang lain antara lain Ranupane, Ranuregulo, dan Ranu Darungan. 
Foto gerbang masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru




Prasasti yang di duga peninggalan kerajaan Majapahit
Akhir liburan semester  sekitar tanggal 26 Juli 2011 saya berkesempatan mengunjungi salah satu tempat terindah di kabupaten Lumajang tersebut. Bersama empat orang teman saya yang lain. Dengan membawa logistik yang bisa di katakan sangat “cukupan” kami menyusuri jalan setapak dengan penuh semangat. Pemandangan yang indah khas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menjadi penyemangat dan penambah tenaga. Medan yang jauh dan barang bawaan yang berat sangat menguras tenaga. Tapi percakapan antara anggota tim dan lagu-lagu yang kami nyanyikan membuat semuanya terasa ringan. Kami sempat berhenti dan bertemu dengan pendaki yang lain. Bahkan di pos 3 kami sempat melihat ayam hutan merah yang sedang mencari makan di sekitar pos 3. Belum sempat kami mengambil potretnya ayam langka tersebut sudah terbang lahi.
Rute setelah pos 3 terus menanjak melewati tanjakan setan. Rute yang berhasil membuat nafas kami tersengal-sengal. Berjalan lima langkah kedepan dan beristirahat cukup lama. Tapi pemandangan dari sana sangat indah pohon-pohon yang menghijaukan taman nasional dan kabut tipis yang menghiasi membuat rasa penat oleh rutinitas dan kebisingan kota hilang. Perjalanan yang menanjak tidak membuat semangat kami runtuh. Perjalanan yang semakin dekat memberi suntikan semangat bagi kami.
Sekitar empat jam setengah kami berjalan pukul 16.00 wib kami sampai di ranukumbolo. Pemandangan yang luar biasa langsung menyambut kedatangan kami. Rumput dan pohon-pohon hijau yang berada di tepian kumbolo menambah indah pemandangan indah tersebut. Kami bergegas membuat tenda karena hari mulai gelap. Satu hal yang tidak bisa saya lupa dari perjalanan ini adalah karena kami tidak membawa kompor dan gas. Kami hanya mengandalkan parafin dan spirtus yang jumlahnya tidak banyak. Jadilah perjalanan ini mempunyai banyak cerita. Mulai memasak makanan andalan yaitu mie instant yang sangat lama dan percobaan membuat cilok yang gagal karena bau bensin. Semua menjadikan pengalaman ini menjadi penuh warna.
Suhu di Ranukumbolo saat itu sangat dingin untuk rata-rata orang Indonesia saya pun merasakan hal itu. Alat pengukur suhu menunjukkan angka 3 drajat celsius. Celakanya lagi dari 5 orang anggota tim hanya 3 orang yang membawa sleeping bag. Konsekuensi  logisnya tentu kami harus rela berbagi. Malam yang sepi dan indah di kagetkan oleh suara kembang api yang dinyalakan oleh beberapa orang pendaki dari kota Malang. Hiburan gratis untuk mengobati hawa dingin yang kian menusuk  tapi mungkin bagi hewan-hewan penghuni Taman Nasional Bromo Tengger Semeru hal itu membuat mereka takut.
Sunrise di Ranukumbolo
                                        

Pagi hari di lewati dengan  menikmati sunrise yang muncul dari balik bukit. Salah satu moment yang paling di tunggu saat berada di Ranukumbolo. Kabut yang menutupi sinar matahari perlahan-lahan mulai hilang. Udara dingin menyapa lewat hembusan angin. Beberapa teman mulai mempersiapkan memasak . Membuat api bukan hal yang mudah saat itu karena kami hanya mengandalkan korek dan sisa-sisa parafin dan spirtus yang tinggal sedikit. Walaupun dengan perjuangan yang keras segelas kopi susu dan sepiring mie instant yang kurang matang menjadi menu istimewa kami di tepian Ranukumbolo pagi itu.
Masak bareng di Ranukumbolo
Tidak mau melaewatkan pemandangan yang indah saya mengajak teman-teman menikmati pemandagan indah dengan berkeliling dan naik ke punggung bukit yang oleh kebanyakan orang sebagai ” bukit cinta” . Dari atas bukit  cinta terlihat jelas pemandangan indah Ranukumbolo sungguh ciptaan Allah SWT tidak ada tandingannya. Setelah itu kami sempat berjalan melihat oro-oro ombo dan gunung semeru yang berdiri tegak di depan kami. Tiba-tiba kami mendapat bonus istimewa melihat kawah Jonggring Saloko mengeluarkan material  vulkaniknya.
Setelah puas melihat pemandangan yang serba indah akhirnya sekitar pukul 11.00 berkemas dan pulang. Pengalaman pertama ke Ranukumbolo yang tidak dapat saya lupakan 
Oro-oro Ombo dan Gunung Semeru
                                         

Pemandangan dari bukit cinta
                                          

Berpose di tepian Kumbolo
Ranukumbolo

DILEMA QUARTER LIFE CRISIS

di usia mu yang menginjak dua puluh tahunan apalagi yang sudah dua puluh lima tahun  kamu pasti merasakan hal-hal yang serba dilematis, d...